Klik Dapet Duit

Jumat, 30 Januari 2009

Puisi-Puisi Mahmoud Darwish

I Have Witnessed the Massacre

Aku menjadi saksi pembantaian
Aku seorang korban dari peta buatan
Aku anak lelaki dari kata-kata tanpa hiasan
Aku melihat koral beterbangan
Aku melihat embun berubah jadi bom berjatuhan

Ketika mereka menutup pintu-pintu hatiku
Memasang barikade dan menetapkan jam malam
Hatiku berubah jadi lembah
Sulbiku menjelma batu
Dan bunga-bunga anyelir tumbuh
Dan kembang-kembang anyelir mekar


KARTU IDENTITAS
Camkan!
Aku adalah orang Arab
Dan nomor KTP 50.000
Aku punya delapan anak-anak
Dan yang kesembilanakan datang setelah musim panas
Apakah kamu akan marah?
Leluhurku
Telah ada sebelum lahirnya zaman
Dan sebelum munculnya masa
Sebelum pinus dan zaitun
Sebelum tumbuhnya padang rumput
Kau curi ladang bapaku
Dan tanah tempat kami bercocok tanam
Aku dan seluruh anak-anakku
Dan untukku dan cucu-cucuku
Tak satu pun yang kau sisakan
Kecuali batu-batu
Akankah penguasa kalian merebutnya juga dari kami?

MEREKA INGIN MELIHATKU MATI

Mereka ingin melihatku mati
Lantas berkata dia milik kami, dari kami.
20 tahun suara jejak-jejak mereka
ku dengar di antara tembok-tembok malam
Mereka tak membuka pintu
Sekarang pun masih di sini
Aku lihat tiga orang dari mereka
Seorang penyair, pembunuh, dan pembaca buku

Kapan kalian ingin menembakku?
Tanyaku
Jangan ambil susah jawaban mereka!
Bumi begitu kelam gulita,
Tapi mengapa puisi-puisimu amat terang?
Karena hatiku terkandung 30 lautan
Tuturku
Camkan waktumu!
Aku ingin kalian bunuh aku perlahan-lahan
Hingga kubisa menulis puisi terakhirku untuk sahabat
Mereka tertawa
hanya serangkai kalimat diambilnya dariku
Serangkai kalimat yang kupersembahkan untuk sahabat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar